Minggu, 13 Mei 2012
Jumat, 11 Mei 2012
kisah sejati
sumber motivasi terbesar dalam hidup? Mungkin jawaban yang tepat adalah
CINTA!! Cinta di sini bukan hanya berarti hubungan sepasang insan
berlainan jenis, namun lebih kepada cinta universal. Cinta seorang ibu /
ortu pada anaknya atau sebaliknya.. Inilah kekuatan terbesar yang dimiliki yang
bisa menjadi sumber motivasi bagi semua orang.
Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai
seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja,
seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan bahagian nasinya
untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak, aku
tidak lapar” ———-KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
Ketika saya
mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk
pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan,
ia dapat memberikan sedikit makanan bergizi untuk pertumbuhan. Sepulang
memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku
memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan
yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku
makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan
suduku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia
berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE DUA
Sekarang aku sudah masuk Sekolah Menengah, demi membiayai sekolah
abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak mancis
untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk
menutupi kepentingan hidup. Di kala musim sejuk tiba, aku bangun dari tempat
tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya
melanjutkan pekerjaannya menempel kotak mancis. Aku berkata : “Ibu, tidurlah,
sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata :
“Cepatlah tidur nak, aku tidak penat” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE TIGA
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku
pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang
tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam.
Ketika bunyi loceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera
menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin
untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang
yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan
gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : “Minumlah nak, aku
tidak haus!” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE EMPAT
Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus
merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu,
dia harus membiayai keperluan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun
semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga
yang semakin parah, ada seorang pakcik yang baik hati yang tinggal di dekat
rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga
yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara,
seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras
kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh
cinta” ———-KEBOHONGAN
IBU YANG KE LIMA
Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah
dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pencen. Tetapi ibu tidak mahu,
ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk
memenuhi keperluan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota
sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, tetapi
ibu berkeras tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang
tersebut. Ibu berkata : “Saya ada duit” ———-KEBOHONGAN
IBU YANG KE ENAM
Setelah lulus dari ijazah, aku pun melanjutkan pelajaran untuk
buat master dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universiti ternama
di Amerika berkat sebuah biasiswa di sebuah syarikat swasta. Akhirnya aku pun
bekerja di syarikat itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa
ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud
tidak mahu menyusahkan anaknya, ia berkata kepadaku : “Aku tak biasa tinggal
negara orang”
———-KEBOHONGAN IBU YANG KE TUJUH
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanser
usus, harus dirawat di hospital, aku yang berada jauh di seberang samudera
atlantik terus segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu
yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani pembedahan. Ibu yang
kelihatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang
tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat
dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat
lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku
perit, sakit sekali melihat ibuku dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu dengan
tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan” ———-KEBOHONGAN
IBU YANG KE DELAPAN.
Setelah mengucapkan kebohongannya yang kelapan, ibuku tercinta
menutup matanya untuk yang terakhir kalinya. Dari cerita di atas, saya percaya
teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan :
“Terima kasih ibu..!” Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak
menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu
kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktiviti kita yang
padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu
kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika
dibandingkan dengan pasangan kita, kita pasti lebih peduli dengan pasangan
kita. Buktinya, kita selalu risau akan kabar pasangan kita, risau apakah dia sudah
makan atau belum, risau apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah
kita semua pernah merisaukan kabar dari orangtua kita? Risau apakah orangtua
kita sudah makan atau belum? Risau apakah orangtua kita sudah bahagia atau
belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi… Di waktu
kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orangtua kita, lakukanlah
yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.
cerita ini diambil dari sebuah artikel yang saya lupa judulnya…
Anda punya cerita motivasi anda sendiri? Silahkan ceritakan pada
dunia!!
Sorga di bawah telapak kaki ibu…
Langganan:
Komentar (Atom)





